Reli Harga Karet Berlanjut, Sentimen Timur Tengah dan El Niño Jadi Pendorong Utama
Medan, 18 Mei 2026 — Harga karet alam dunia masih melanjutkan tren penguatan sepanjang tahun 2026, meskipun mengalami koreksi tajam pada perdagangan pekan lalu. Pasar global kini dibayangi kombinasi sentimen geopolitik Timur Tengah, fluktuasi dolar AS, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi akibat El Niño 2026.
Data perdagangan SICOM-TSR20 di SGX menunjukkan pergerakan yang sangat volatil sepanjang pekan lalu. Harga sempat melonjak tajam hingga menyentuh 231,6 sen AS/kg pada 13 Mei 2026, sebelum berbalik melemah dan ditutup di level 221,3 sen AS/kg pada 15 Mei 2026.
Koreksi tersebut terjadi setelah pasar mengalami reli cukup kuat sejak akhir April hingga awal Mei. Tekanan aksi ambil untung (profit taking), penguatan dolar AS, serta meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian global menjadi faktor utama yang memicu pelemahan pada dua sesi terakhir pekan lalu.
Meski demikian, secara keseluruhan tren harga sepanjang tahun 2026 masih menunjukkan kecenderungan positif. Dibanding awal Januari 2026 di level 181,7 sen AS/kg, harga TSR20 hingga pertengahan Mei masih mencatat kenaikan lebih dari 21 persen.
Pantauan pasar pagi ini pukul 08.45 WIB menunjukkan kontrak aktif SICOM-TSR20 Juni berada di level 221,3 sen AS/kg atau stagnan dibanding penutupan sebelumnya. Sementara kontrak RSS3 paling aktif di bursa SHFE (RU) untuk September tercatat menguat 40 poin menjadi 17.640 yen.
Pelemahan Pekan Lalu Dinilai Masih Wajar
Pelaku pasar menilai pelemahan yang terjadi pada paruh kedua pekan lalu masih tergolong wajar secara teknikal setelah kenaikan harga yang berlangsung cukup cepat dalam beberapa pekan terakhir.
Sepanjang April hingga awal Mei, harga TSR20 bergerak naik hampir tanpa koreksi besar, didorong kombinasi sentimen pasokan dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopolitik global. Kondisi tersebut memicu aksi profit taking ketika harga mendekati area psikologis 230 sen AS/kg.
Selain itu, penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia juga turut memberi tekanan terhadap harga komoditas berbasis dolar, termasuk karet alam.
Rubber Trade Association Europe (RTAE) dalam laporan Mei 2026 menyebut tren harga TSR20 selama empat bulan terakhir bergerak naik secara gradual dengan kenaikan sekitar 18 persen. Namun di tengah tren tersebut, pasar beberapa kali mengalami koreksi tajam, terutama pada akhir Maret dan pertengahan April.
Menurut asosiasi tersebut, volatilitas nilai tukar dolar AS selama Maret-April menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga karet global.
Konflik Timur Tengah Mulai Pengaruhi Sentimen Pasar
Pasar juga terus mencermati perkembangan konflik Timur Tengah yang mulai berdampak terhadap rantai pasok industri petrokimia dan karet sintetis global.
RTAE menyebut perang antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026 belum sepenuhnya tercermin dalam grafik harga TSR20. Namun konflik tersebut mulai memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan bahan baku synthetic rubber dari kawasan Teluk Persia.
Gangguan logistik di sekitar Selat Hormuz menjadi perhatian penting karena kawasan tersebut merupakan jalur utama distribusi energi dan bahan baku industri global. Sekitar 2.000 kapal dilaporkan sempat tertahan di kawasan Teluk Persia, meskipun sebagian besar merupakan kapal tanker khusus.
Pasar menilai terganggunya pasokan feedstock dari negara-negara Teluk dapat membatasi produksi karet sintetis dunia, terutama nitrile rubber. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap natural rubber sebagai alternatif substitusi.
Di sisi lain, stok synthetic rubber dari produsen Asia Timur seperti Korea Selatan saat ini masih dinilai cukup memadai sehingga dampak langsung terhadap industri ban global belum terlalu besar.
Ancaman El Niño Jadi Perhatian Baru Industri Karet
Selain faktor geopolitik, pasar kini mulai memberi perhatian besar terhadap ancaman El Niño 2026 terhadap produksi karet Asia Tenggara.
Dalam webinar bertajuk Dinamika Iklim dan Hubungannya dengan Produksi Karet Nasional yang diselenggarakan Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) pada 30 April 2026, BMKG melalui STMKG memprediksi potensi El Niño mulai berkembang pada Mei–Juni 2026 dan dapat berlangsung hingga semester kedua tahun ini.
Dr. Dodo Gunawan dari STMKG-BMKG menjelaskan probabilitas El Niño diperkirakan meningkat signifikan mulai Juli hingga akhir tahun 2026. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan.
Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Karet Dr. Tri Rapani Febbiyanti menyampaikan bahwa kekeringan akibat El Niño dapat menurunkan produksi lateks hingga 50 persen akibat terganggunya proses fisiologis tanaman karet.
Kondisi kekeringan berkepanjangan juga dapat memicu stres oksidatif, gugur daun, kering alur sadap (KAS), hingga meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit akar.
Meski demikian, kondisi cuaca yang lebih kering diperkirakan dapat menekan perkembangan beberapa penyakit gugur daun seperti Pestalotiopsis, Colletotrichum, Oidium heveae, dan Corynespora cassiicola akibat tingkat kelembaban yang lebih rendah.
Sebagai langkah antisipasi, webinar GAPKINDO juga menyoroti pentingnya penggunaan rorak konservasi air, mulsa organik, tanaman penutup tanah (LCC), irigasi, biofertilizer, inokulasi mikoriza, hingga penggunaan klon karet toleran kekeringan guna menjaga produktivitas kebun.
Analisis Teknikal: Tren Bullish Masih Dominan
Secara teknikal, struktur pergerakan TSR20 masih menunjukkan tren bullish meskipun volatilitas meningkat tajam dalam dua pekan terakhir.
Keberhasilan harga bertahan di atas area psikologis 220 sen AS/kg menjadi indikasi bahwa minat beli pasar masih relatif kuat. Koreksi pasca lonjakan ke 231,6 sen AS/kg sejauh ini masih dianggap sebagai koreksi sehat dalam tren naik.
Area support jangka pendek saat ini berada pada kisaran 218–220 sen AS/kg. Selama harga tetap berada di atas area tersebut, peluang rebound masih cukup terbuka.
Sementara itu, resistance terdekat berada pada area 225–228 sen AS/kg. Apabila level tersebut berhasil ditembus kembali, pasar berpotensi menguji ulang area 230–232 sen AS/kg.
Namun apabila tekanan jual meningkat dan harga turun di bawah 218 sen AS/kg, maka pasar berpotensi mengalami koreksi lebih dalam menuju area 212–215 sen AS/kg.
Perkiraan Pekan Ini: Fluktuatif dengan Kecenderungan Menguat
Untuk perdagangan pekan ini, harga karet diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas.
Sentimen pasar secara umum masih cukup positif karena didukung kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi akibat El Niño, risiko pasokan bahan baku synthetic rubber dari Timur Tengah, serta prospek permintaan industri ban yang relatif stabil.
Namun reli cepat dalam beberapa pekan terakhir juga meningkatkan peluang aksi profit taking lanjutan, terutama bila dolar AS kembali menguat atau terjadi tekanan dari pasar komoditas global lainnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi fundamental dan teknikal saat ini, harga TSR20 diperkirakan bergerak pada kisaran 218–228 sen AS/kg sepanjang pekan ini, dengan peluang menguji kembali area 230 sen AS/kg apabila sentimen pasokan semakin menguat.