SICOM TSR20 Melejit ke 231,9 Sen, El Nino Panjang dan Krisis Pasokan Dorong Pasar Karet Dunia Memanas
Medan, 2 Juni 2026 – Pasar karet alam global kembali menunjukkan penguatan signifikan pada awal pekan ini. Harga SICOM TSR20 kontrak Juli di SGX terpantau pada pukul 07.25 WIB berada di level 231,9 sen AS/kg, naik 2,6 sen dibanding perdagangan sebelumnya. Penguatan tersebut memperpanjang tren bullish yang telah berlangsung sepanjang semester pertama 2026.
Di saat yang sama, kontrak RSS3 paling aktif di SHFE Rubber untuk September tercatat di level 17.965 yuan/ton, mengindikasikan sentimen positif masih dominan di pasar karet Asia.
Reli Harga Karet Semakin Kuat
Pergerakan harga TSR20 sepanjang 2026 memperlihatkan tren kenaikan yang cukup agresif. Pada awal Januari 2026, harga masih berada di kisaran 181,7 sen, namun kini telah menembus area 231 sen, atau melonjak sekitar 27% year-to-date.
Dalam sepekan terakhir saja, pasar mengalami percepatan kenaikan:
22 Mei 2026 : 221,8
25 Mei 2026 : 223,1
26 Mei 2026 : 222,1
28 Mei 2026 : 228,3
29 Mei 2026 : 229,0
2 Juni 2026 : 231,9
Kenaikan cepat tersebut menunjukkan adanya kombinasi antara faktor teknikal dan fundamental yang saling memperkuat.
El Nino Jadi Mesin Utama Kenaikan Harga
Analis pasar menilai fenomena El Nino berkepanjangan menjadi faktor paling dominan yang mengguncang rantai pasok karet alam dunia.
Kawasan produsen utama seperti Thailand, Indonesia, Vietnam, dan Malaysia mengalami penurunan curah hujan signifikan sepanjang 2025 hingga 2026. Kondisi tersebut menyebabkan musim sadap terlambat dan produksi lateks turun tajam.
Selain cuaca ekstrem, industri juga menghadapi persoalan struktural berupa:
usia pohon karet yang semakin tua,
minimnya penanaman baru,
alih fungsi lahan ke sawit dan tanaman hortikultura,
rendahnya elastisitas suplai global.
Laporan pasar internasional memperkirakan defisit pasokan karet alam dunia pada 2026 dapat mencapai sekitar 400 ribu ton.
Situasi ini diperburuk oleh stok global yang terus menurun, terutama di gudang Qingdao dan bursa Shanghai, sehingga pasar spot menjadi semakin ketat.
Pasar Masih Ditopang Permintaan
Di sisi permintaan, pemulihan industri otomotif global mulai memberi dukungan tambahan. Pertumbuhan kendaraan listrik atau EV juga ikut meningkatkan konsumsi karet karena kebutuhan ban yang lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional.
Selain itu, aktivitas penggantian ban truk serta proyek infrastruktur di sejumlah negara Asia ikut menopang permintaan ban radial.
Meski demikian, sebagian pelaku industri ban masih menghadapi tekanan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku dan tingginya ongkos impor.
Geopolitik Timur Tengah Turut Menambah Volatilitas
Pasar juga masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah yang sempat mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kenaikan minyak mentah biasanya ikut mendukung harga karet alam karena karet sintetis berbasis petroleum menjadi lebih mahal. Kondisi ini membuat daya saing natural rubber meningkat.
Trader di Singapura menyebut pasar saat ini bergerak dalam pola “strong support with volatile consolidation”, di mana tekanan jual masih relatif terbatas karena kekhawatiran pasokan global belum mereda.
Analisis Teknikal: Pasar Berpotensi Uji 235–240 Sen
Secara teknikal, tren SICOM TSR20 masih berada dalam pola bullish menengah.
Area 228–229 sen yang sebelumnya menjadi resistance kini berubah menjadi support baru setelah berhasil ditembus. Momentum kenaikan yang cepat membuka peluang pasar menguji area psikologis berikutnya di:
235 sen
238 sen
bahkan berpotensi menuju 240 sen apabila sentimen pasokan tetap ketat.
Namun pasar juga berpotensi mengalami profit taking jangka pendek mengingat kenaikan yang cukup tajam dalam dua pekan terakhir.
Untuk downside, area support kuat diperkirakan berada pada:
228 sen
223 sen
220 sen
Selama harga bertahan di atas area tersebut, tren utama masih dinilai bullish.
Fundamental: Bias Bullish Masih Dominan
Secara fundamental, pasar karet dunia saat ini masih memiliki “cerita besar” yang mendukung harga tetap tinggi, yakni:
Defisit suplai global berkepanjangan
Dampak El Nino yang belum sepenuhnya selesai
Persediaan global rendah
Produksi kebun sulit pulih cepat
Permintaan otomotif global mulai membaik
Kombinasi faktor tersebut membuat banyak analis memperkirakan level harga tinggi masih akan bertahan dalam beberapa bulan mendatang, meski volatilitas diperkirakan semakin besar.
Pelaku pasar kini menunggu perkembangan cuaca di Asia Tenggara selama puncak musim produksi pertengahan tahun untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.