Harga Karet Dunia Terbang Dua Hari Beruntun, SICOM Tembus 250 Sen. Apa yang Sedang Terjadi?
Medan, 9 September 2026 – Pasar karet dunia masih mempertahankan tren positif hingga perdagangan Rabu (9/9) sore. Setelah mencatat rebound kuat pada perdagangan Selasa, penguatan kembali berlanjut pada hari ini seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global, kenaikan harga minyak mentah, serta terus menipisnya stok karet yang dapat diserahkan (deliverable stock) di bursa China.
Hingga pukul 14.40 WIB, kontrak TSR20 SICOM Oktober diperdagangkan di 250,2 sen AS/kg, naik 1,2 sen dibanding penutupan sebelumnya. Sementara kontrak RSS3 SHFE Januari 2027 menguat 305 yuan menjadi 19.770 yuan/ton, memperpanjang reli yang telah dimulai sejak awal pekan.
Level tersebut sekaligus menempatkan harga TSR20 pada posisi tertinggi sepanjang tahun 2026, melanjutkan kenaikan tajam dari posisi 241,9 sen/kg pada 7 September menjadi 249,0 sen/kg pada 8 September, dan kini kembali menembus 250 sen/kg.
Rebound Dua Hari Dipicu Kekhawatiran Pasokan
Lonjakan harga dalam dua hari terakhir bukan terjadi tanpa alasan. Pasar memperoleh dorongan kuat dari kombinasi beberapa sentimen fundamental yang muncul hampir bersamaan.
Faktor terbesar berasal dari melemahnya pasokan karet spesifikasi Indonesia (Indonesian Standard Rubber/ISR) yang menjadi salah satu acuan kontrak NR di China. Data kepabeanan Indonesia menunjukkan ekspor karet standar ke China selama Agustus turun tajam dibandingkan tahun lalu sehingga kembali memunculkan kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan baku untuk kebutuhan pengiriman kontrak berjangka.
Di sisi lain, jumlah stok (warehouse receipt) kontrak NR di Shanghai Futures Exchange masih berada pada level historis yang sangat rendah. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin sensitif terhadap setiap gangguan pasokan karena ruang untuk memenuhi kebutuhan fisik menjadi semakin terbatas.
Analis juga menilai pasokan alternatif dari Thailand maupun Pantai Gading belum mampu sepenuhnya menutup berkurangnya suplai dari Indonesia. Akibatnya, persepsi pasar bergeser bahwa pasokan karet murah untuk kebutuhan pengiriman kontrak masih akan tetap ketat dalam jangka pendek.
Harga Minyak Ikut Menjadi Pendorong
Sentimen positif juga datang dari pasar energi.
Harga minyak mentah dunia kembali mendekati US$100 per barel setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Kenaikan minyak mentah biasanya ikut menopang harga karet karena karet sintetis diproduksi dari bahan baku turunan minyak. Ketika harga minyak naik, biaya produksi karet sintetis meningkat sehingga daya saing karet alam ikut membaik.
Selain itu, harga bahan baku karet di Thailand maupun kawasan produsen utama Asia juga masih menunjukkan kecenderungan menguat sehingga menopang harga fisik di pasar.
Stok Terus Menurun
Dari sisi fundamental, kondisi pasar masih relatif sehat.
Persediaan karet di kawasan Qingdao, China, kembali mengalami penurunan pada pekan terakhir menjadi sekitar 61,91 juta ton, atau turun sekitar 1,38 persen dibanding pekan sebelumnya. Penurunan stok ini menunjukkan bahwa arus keluar barang masih lebih besar dibandingkan pasokan yang masuk sehingga keseimbangan pasar belum menunjukkan perubahan signifikan.
Di pasar fisik China, pedagang juga kembali menaikkan penawaran sekitar 300–400 yuan per ton setelah lonjakan harga futures mendorong aktivitas perdagangan menjadi lebih aktif.
Permintaan Belum Melemah Signifikan
Walaupun harga bahan baku terus naik, permintaan belum menunjukkan pelemahan yang berarti.
Beberapa analis menilai industri hilir memang mulai memperlambat pembelian sebagai respons atas kenaikan harga. Namun pada saat yang sama, persediaan bahan baku maupun barang jadi juga ikut menurun sehingga belum terlihat adanya penumpukan stok yang mengindikasikan pelemahan permintaan secara drastis.
Indikator ekonomi dan sektor otomotif China yang relatif membaik juga masih memberikan dukungan terhadap sentimen pasar, meskipun pertumbuhan konsumsi domestik belum sepenuhnya pulih.
Cuaca Masih Menjadi Faktor Risiko
Memasuki September, perhatian pasar juga masih tertuju pada perkembangan cuaca di kawasan produsen utama.
Curah hujan yang masih terjadi di beberapa wilayah Thailand menyebabkan aktivitas penyadapan belum sepenuhnya normal. Di sisi lain, pelaku pasar juga tetap mengawasi perkembangan fenomena El Niño yang dikhawatirkan dapat memengaruhi produksi beberapa bulan ke depan apabila kondisi kering mulai meluas.
Walaupun dampaknya terhadap produksi belum terlihat secara nyata, isu tersebut masih menjadi faktor yang terus diperhitungkan investor.
Bagaimana Prospek Harga?
Secara fundamental, kecenderungan pasar masih berada dalam kondisi bullish. Kombinasi stok yang rendah, pasokan Indonesia yang masih terbatas, kenaikan harga minyak, dan biaya bahan baku yang tetap tinggi membuat ruang koreksi harga relatif terbatas selama belum muncul perubahan signifikan dari sisi pasokan.
Dari sisi analisis teknikal (bukan merupakan rekomendasi investasi dan hanya sebagai gambaran pergerakan pasar), keberhasilan SICOM TSR20 bertahan di atas 250 sen AS/kg berpotensi membuka peluang pengujian area 252–255 sen AS/kg pada perdagangan hari ini. Namun apabila terjadi aksi ambil untung setelah kenaikan tajam dua hari terakhir, harga berpotensi bergerak konsolidatif di kisaran 247–250 sen AS/kg sebelum menentukan arah berikutnya.
Bagi pelaku usaha karet di Indonesia, tren penguatan ini menjadi perkembangan yang cukup positif. Namun demikian, keberlanjutan kenaikan harga masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekspor Indonesia, kondisi stok di China, cuaca di negara-negara produsen, serta dinamika harga minyak dunia dalam beberapa hari mendatang.