Harga Karet Melesat, SICOM Tembus 252 Sen — Pasokan Mengetat, Risiko El Niño Menguat
Medan, 24 September 2026 — Harga karet alam kembali menunjukkan penguatan tajam. Setelah menguat pada perdagangan Rabu (23/9), harga karet pada Kamis pagi (24/9) kembali bergerak naik, menandakan rebound yang semakin solid di tengah kekhawatiran terhadap pasokan global dan meningkatnya perhatian pasar terhadap risiko cuaca akibat El Niño.
Pada pemantauan pukul 09.13 WIB, kontrak SICOM-TSR20 Oktober berada di 252,3 sen AS per kilogram, naik 3,5 sen dari posisi sebelumnya. Sementara itu, kontrak karet RSS3 paling aktif Januari 2027 di SHFE berada di 19.425 yuan per ton, naik 305 yuan.
Penguatan ini melanjutkan kenaikan sehari sebelumnya. SICOM-TSR20 pada 22 September masih berada di 241,7 sen/kg, kemudian melonjak menjadi 249,5 sen/kg pada 23 September. Dengan demikian, dalam dua sesi terakhir harga telah naik sekitar 10,6 sen/kg atau 4,4 persen, sedangkan dibandingkan posisi 18 September di 236,8 sen/kg, kenaikannya sudah sekitar 6,5 persen.
Rebound Bukan Sekadar Pantulan Teknis
Kenaikan harga kali ini mendapat dukungan dari kombinasi beberapa faktor. Di pasar fisik Asia, pasokan karet masih menghadapi gangguan cuaca dan biaya bahan baku yang tinggi. Di Thailand, hujan sebelumnya mengganggu aktivitas penyadapan di sejumlah wilayah sehingga pasokan bahan baku tidak sepenuhnya mengalir sesuai pola musimannya.
Harga bahan baku karet Thailand pada 21 September tercatat sekitar 73,8 baht per kilogram, atau sekitar Rp39.000–Rp40.000 per kilogram (100% DRC), dengan asumsi kurs sekitar Rp530–Rp540 per baht. Harga tersebut menunjukkan bahwa biaya bahan baku masih berada pada level tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini penting karena harga bahan baku yang tinggi membuat produsen dan eksportir tidak mudah menawarkan produk pada harga rendah. Pada saat yang sama, harga internasional yang relatif tinggi dibandingkan harga domestik China membuat keuntungan impor menjadi terbatas.
Akibatnya, pasokan baru ke pasar China belum mengalir secara agresif.
Impor China Turun, Stok Karet Ikut Menyusut
Data perdagangan China menunjukkan impor karet alam pada Agustus mencapai sekitar 486 ribu ton, turun 6,7 persen secara tahunan dan menjadi salah satu level terendah untuk periode Agustus dalam beberapa tahun terakhir.
Secara kumulatif Januari-Agustus, impor karet alam China mencapai sekitar 4,08 juta ton, turun sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan impor biasanya dapat dibaca sebagai sinyal permintaan yang melemah. Namun kondisi kali ini memiliki sisi lain. Pasokan yang masuk ke China juga berkurang, sementara persediaan karet di pusat perdagangan utama terus mengalami pengurangan.
Persediaan karet di kawasan Qingdao pada pekan hingga 18 September dilaporkan kembali mengalami penurunan sekitar 1,74 juta ton, terdiri atas penurunan persediaan kawasan berikat maupun gudang perdagangan umum.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan karet fisik menjadi perhatian pasar. Dengan kata lain, pasar saat ini tidak hanya melihat seberapa besar permintaan, tetapi juga seberapa mudah karet tersedia secara fisik.
Risiko El Niño Menguat Menjelang Kuartal IV
Faktor yang semakin mendapatkan perhatian adalah perkembangan El Niño.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO memperkirakan El Niño yang sedang berkembang berpotensi menguat secara signifikan dalam beberapa bulan mendatang dan dapat bertahan hingga awal 2027.
Bagi pasar karet, perkembangan tersebut penting karena sebagian besar produksi karet alam dunia berasal dari kawasan Asia Tenggara. Perubahan pola hujan dan suhu dapat memengaruhi aktivitas penyadapan serta perkembangan produksi.
Indonesia juga menghadapi perubahan pola musim. Perkiraan terbaru menunjukkan musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi datang lebih lambat dibandingkan pola normal.
Namun, dampak El Niño terhadap produksi karet belum dapat dianggap sebagai kepastian penurunan produksi. Dampaknya akan sangat bergantung pada wilayah, intensitas cuaca dan durasi gangguan.
Karena itu, untuk saat ini El Niño lebih tepat dipandang sebagai risiko terhadap pasokan ke depan yang mulai diperhitungkan oleh pasar.
Pasokan Menjadi Perhatian Utama
Memasuki kuartal IV, secara musiman produksi karet di sejumlah negara produsen seharusnya mulai memasuki periode yang lebih tinggi. Kondisi tersebut biasanya memberikan tambahan pasokan ke pasar.
Namun tahun ini terdapat beberapa faktor yang membuat pasar tidak sepenuhnya yakin pasokan baru akan mengalir dengan lancar.
Curah hujan di sejumlah kawasan produksi telah mengganggu aktivitas penyadapan. Di sisi lain, harga bahan baku yang tinggi membuat biaya produksi tetap kuat. Ketika harga bahan baku tinggi sementara struktur harga internasional membuat keuntungan impor terbatas, pelaku usaha tidak memiliki insentif besar untuk meningkatkan pembelian secara agresif.
Jika kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya risiko cuaca akibat El Niño, pasar dapat menghadapi situasi pasokan yang lebih ketat memasuki akhir 2026.
Rebound Semakin Kuat, tetapi Profit Taking Mulai Mengintai
Dari sisi teknikal, penguatan SICOM-TSR20 sekarang dapat dikatakan lebih kuat dibandingkan rebound sebelumnya.
Harga pada 18 September masih berada di 236,8 sen/kg. Pada 22 September naik menjadi 241,7 sen, kemudian melonjak ke 249,5 sen pada 23 September. Pagi ini harga kembali naik ke 252,3 sen/kg.
Artinya, dalam dua sesi terakhir harga sudah naik sekitar 4,4 persen.
Yang menarik, harga juga berhasil kembali melewati area 249–250 sen/kg, yang sebelumnya menjadi puncak pada awal September. Ini memperlihatkan bahwa tekanan beli masih cukup kuat.
Namun, kenaikan yang berlangsung cepat juga berarti risiko profit taking atau aksi ambil untung mulai meningkat.
Profit taking belum dapat disebut sebagai tanda bahwa tren naik berakhir. Tetapi setelah kenaikan lebih dari 10 sen hanya dalam dua sesi, pasar biasanya membutuhkan pembuktian apakah pembeli masih bersedia mengejar harga pada level yang lebih tinggi.
255 Sen Menjadi Ujian Berikutnya
Secara teknikal, area 250–251 sen/kg kini menjadi level penting.
Jika harga mampu bertahan di atas area tersebut, rebound masih memiliki ruang untuk melanjutkan kenaikan. Target terdekat berada di sekitar 255 sen/kg.
Jika 255 mampu ditembus dan momentum pembelian tetap kuat, perhatian berikutnya dapat bergeser ke 258–260 sen/kg, yang sekaligus merupakan zona psikologis penting.
Sebaliknya, apabila harga gagal mempertahankan 250 sen/kg dan terjadi aksi ambil untung, area 247–249 sen/kg berpotensi menjadi zona pengujian kembali.
Untuk perdagangan Kamis ini, berdasarkan struktur harga pagi dan pergerakan beberapa sesi terakhir, 252–255 sen/kg menjadi area penting untuk diamati, sementara 258–260 sen/kg merupakan skenario lanjutan apabila momentum penguatan tetap terjaga.
Catatan teknikal: proyeksi tersebut merupakan pembacaan teknikal berdasarkan data harga yang tersedia dan bukan kepastian arah harga maupun rekomendasi transaksi. Harga komoditas dapat berubah cepat akibat cuaca, nilai tukar, kebijakan China, kondisi pasar global, permintaan industri dan perkembangan pasokan fisik.
Fundamental Masih Memberikan Penopang
Secara fundamental, pasar karet saat ini memperoleh dukungan dari beberapa faktor yang berjalan bersamaan.
Pasokan bahan baku di sejumlah negara produsen masih menghadapi gangguan cuaca. Harga bahan baku tetap tinggi. Impor China mengalami penurunan, tetapi persediaan di pusat perdagangan utama juga terus menyusut. Sementara itu, risiko El Niño memberikan tambahan ketidakpastian terhadap pasokan pada kuartal IV dan awal 2027.
Di sisi permintaan, sektor otomotif dan industri ban China tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Kebijakan yang mendukung sektor otomotif juga dapat membantu menjaga konsumsi karet tetap relatif baik.
Perkembangan hubungan perdagangan dan geopolitik global turut memengaruhi sentimen pasar. Setiap perkembangan yang memperbaiki prospek perdagangan dan aktivitas ekonomi global dapat memberikan dukungan tambahan terhadap komoditas, termasuk karet.
Dengan demikian, kenaikan harga karet saat ini bukan hanya persoalan teknikal. Ada dukungan fundamental berupa kekhawatiran pasokan dan berkurangnya ketersediaan fisik, meskipun pasar tetap harus menghadapi risiko koreksi setelah harga naik cukup cepat.
Pasar Karet Memasuki Fase Penting
Pergerakan SICOM-TSR20 dalam dua hari terakhir menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Setelah sempat turun ke 236–238 sen/kg pada pertengahan September, harga kini kembali berada di atas 250 sen/kg.
Perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada kemampuan harga mempertahankan 250 sen/kg.
Jika level tersebut bertahan, maka kenaikan menuju 255 sen/kg dan kemudian 258–260 sen/kg masih terbuka secara teknikal. Sebaliknya, jika terjadi profit taking dan harga kembali berada di bawah 250 sen/kg, pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi terlebih dahulu.
Yang jelas, memasuki akhir September, faktor pasokan kembali menjadi cerita utama pasar karet. Cuaca, perkembangan El Niño, produksi negara-negara utama, arus impor China dan perubahan stok fisik akan menjadi faktor yang menentukan apakah penguatan harga saat ini mampu berlanjut atau justru membutuhkan jeda.
Untuk pelaku industri karet Indonesia, pergerakan SICOM-TSR20 tetap menjadi salah satu indikator penting yang perlu dicermati karena perubahan harga internasional pada akhirnya dapat memengaruhi pembentukan harga bahan baku dan produk karet di pasar regional.