Harga Karet Terkoreksi Setelah Melonjak, Profit Taking Mulai Tekan SICOM-TSR20
Medan, 28 September 2026 — Harga karet dunia memasuki awal pekan dengan tekanan koreksi setelah mencatat kenaikan tajam sepanjang perdagangan pekan lalu. Pelemahan terlihat pada SICOM-TSR20 maupun karet RSS3 di Shanghai, meski kondisi fundamental pasar karet secara umum masih mendapat dukungan dari terbatasnya pasokan bahan baku, gangguan cuaca di sejumlah sentra produksi Asia Tenggara, serta ekspektasi meningkatnya risiko cuaca ekstrem menjelang akhir tahun.
Pada pemantauan Senin (28/9) pukul 12.56 WIB, kontrak Oktober SICOM-TSR20 berada di 253,1 sen AS/kg, turun 3,1 sen dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, kontrak karet RSS3 paling aktif Januari 2027 di Shanghai berada di sekitar 19.400 yuan per ton, turun 25 yuan.
Koreksi tersebut datang setelah harga SICOM-TSR20 mengalami kenaikan yang sangat cepat dalam satu pekan. Berdasarkan pergerakan harga yang dipantau, SICOM-TSR20 naik dari 238,0 sen/kg pada 21 September menjadi 256,2 sen/kg pada 25 September, atau meningkat sekitar 7,6 persen hanya dalam empat hari perdagangan. Kenaikan tersebut membawa harga ke level tertinggi baru dalam rangkaian penguatan beberapa pekan terakhir.
Data historis juga menunjukkan betapa cepatnya perubahan sentimen pasar. Pada 18 September, SICOM-TSR20 masih berada di sekitar 236,8 sen/kg. Setelah itu harga bergerak naik menjadi 238,0 sen pada 21 September, 241,7 sen pada 22 September, 249,5 sen pada 23 September, dan 254,0 sen pada 24 September sebelum mencapai 256,2 sen pada 25 September. Data pasar historis juga mencatat harga sempat menyentuh area 262,9 sen/kg pada perdagangan 23 September.
Setelah naik cepat, pasar mulai mengambil napas
Kondisi tersebut membuat penurunan pada awal pekan ini cukup masuk akal. Setelah harga naik lebih dari tujuh persen dalam waktu singkat, sebagian pelaku pasar memiliki ruang untuk mengamankan keuntungan. Dengan kata lain, profit taking sangat mungkin menjadi salah satu pemicu utama koreksi hari ini.
Namun, koreksi tidak berarti faktor pendukung harga karet tiba-tiba hilang. Justru yang terjadi adalah pasar sedang menguji kembali seberapa kuat kenaikan yang terjadi pada pekan sebelumnya.
Kenaikan harga sebelumnya mendapat dukungan dari kombinasi beberapa faktor. Gangguan cuaca membuat aktivitas penyadapan di sejumlah wilayah produsen tidak selalu berjalan normal. Pada saat yang sama, harga minyak dan bahan baku karet sintetis yang relatif tinggi memberikan dukungan terhadap harga karet alam karena karet sintetis merupakan salah satu produk pengganti karet alam.
Di sisi lain, kebutuhan industri ban masih menjadi penopang permintaan, meskipun belum menunjukkan lonjakan yang cukup kuat untuk disebut sebagai gelombang permintaan besar.
Bagaimana dengan banjir Thailand?
Faktor banjir di Thailand memang perlu diperhatikan, tetapi belum tepat jika disebut sebagai penyebab utama koreksi harga hari ini.
Thailand merupakan salah satu pusat produksi karet dunia dan sebagian besar area karetnya berada di wilayah selatan. Data pemerintah Thailand menunjukkan wilayah seperti Surat Thani, Songkhla, Nakhon Si Thammarat, Trang, Phatthalung dan sejumlah provinsi selatan memiliki areal karet yang besar.
Badan Meteorologi Thailand memang melaporkan hujan cukup luas pada pekan sebelumnya, bahkan terjadi banjir di beberapa wilayah selatan seperti Krabi, Ranong, Phang-nga dan Satun pada 18–20 September. Untuk 28–29 September, masih terdapat potensi hujan dan badai petir di kawasan selatan.
Artinya, cuaca tetap menjadi faktor yang dapat mengganggu kelancaran penyadapan, tetapi berdasarkan informasi resmi yang tersedia saat ini belum ada bukti bahwa banjir sedang menyebabkan gangguan besar dan menyeluruh terhadap produksi karet Thailand.
Karena itu, pengaruh banjir lebih tepat dilihat sebagai faktor tambahan terhadap risiko pasokan, bukan sebagai satu-satunya alasan kenaikan atau penurunan harga.
Pasokan global masih belum sepenuhnya longgar
Dari sisi pasokan, pasar karet memang belum berada dalam kondisi yang benar-benar longgar.
Data terbaru menunjukkan impor karet alam China selama Januari–Agustus 2026 mencapai sekitar 4,08 juta ton, turun sekitar 1,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Agustus, impor memang meningkat dibanding Juli, tetapi masih turun sekitar 6,7 persen secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan China tetap besar, tetapi pasokan yang masuk belum tumbuh secara agresif.
Laporan ANRPC juga menunjukkan bahwa produksi karet alam dunia pada Juli diperkirakan hanya sekitar 1,321 juta ton, turun 5,15 persen dibanding Juli tahun sebelumnya. Gangguan cuaca, curah hujan yang tidak merata, suhu tinggi dan perkembangan El Niño disebut sebagai faktor yang mengganggu kelancaran pemulihan produksi.
Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. ANRPC masih memperkirakan produksi karet alam global sepanjang 2026 meningkat sekitar 2,1 persen menjadi 15,279 juta ton. Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata kekurangan karet secara permanen, tetapi seberapa cepat pasokan baru dapat masuk ke pasar dibandingkan kebutuhan industri.
El Niño menjadi faktor yang masih diperhitungkan
Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan El Niño. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan El Niño telah terbentuk dan diperkirakan menguat, dengan peluang hampir 100 persen untuk bertahan hingga Februari 2027. WMO juga memperingatkan bahwa El Niño yang sangat kuat dapat meningkatkan perubahan pola hujan dan suhu serta meningkatkan risiko cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Bagi pasar karet, pengaruhnya tidak selalu berarti produksi otomatis turun. Dampaknya sangat tergantung pada lokasi dan bentuk cuaca yang terjadi. Tetapi jika kondisi cuaca mengganggu hari penyadapan atau mengurangi keluarnya lateks, pasokan bahan baku dapat menjadi lebih ketat dan mendukung harga.
Karena itu, pasar saat ini cenderung memberikan premi risiko cuaca terhadap kontrak yang lebih jauh. Akan tetapi, apakah risiko tersebut benar-benar berubah menjadi penurunan produksi yang besar masih harus menunggu data produksi aktual beberapa bulan ke depan.
Permintaan belum cukup kuat untuk mengejar kenaikan harga
Di sisi permintaan, situasinya relatif berbeda. Industri ban masih membutuhkan karet, tetapi pembelian belum menunjukkan pola agresif.
ANRPC menilai permintaan karet alam China masih relatif stabil, sementara pertumbuhan produksi dan ekspor ban masih terbatas karena produsen berhati-hati melakukan pembelian bahan baku. Pertumbuhan kendaraan listrik di China, India, Asia Tenggara dan Eropa menjadi salah satu faktor positif untuk kebutuhan ban dalam jangka panjang.
Ini menjadi salah satu alasan mengapa kenaikan harga yang terlalu cepat berpotensi menghadapi hambatan. Ketika harga bahan baku naik tinggi, produsen ban cenderung lebih berhati-hati melakukan pembelian dan lebih mengutamakan kebutuhan produksi dibandingkan membangun persediaan besar.
Dengan demikian, pasar karet saat ini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan: pasokan yang belum sepenuhnya lancar di satu sisi, tetapi permintaan yang belum cukup kuat di sisi lainnya.
Minyak dan karet sintetis masih menjadi penopang
Harga minyak juga tetap relevan karena memengaruhi biaya produksi karet sintetis. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membuat harga energi relatif tinggi dan meningkatkan ketidakpastian pasokan bahan baku petrokimia. Reuters melaporkan Brent sempat berada mendekati US$100 per barel pada pekan lalu di tengah ketidakpastian terkait konflik dan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuat karet sintetis tidak serta-merta menjadi alternatif yang jauh lebih murah. Ini memberikan dukungan tidak langsung kepada karet alam.
Namun faktor minyak juga bukan berarti harga karet harus terus naik. Harga energi yang tinggi pada akhirnya dapat meningkatkan biaya industri dan menekan kemampuan produsen ban menyerap kenaikan harga bahan baku.
Secara teknikal, koreksi masih tergolong wajar
Dari sisi pergerakan harga, koreksi hari ini perlu dilihat dalam konteks kenaikan yang sangat cepat pada pekan sebelumnya.
SICOM-TSR20 telah bergerak dari sekitar 238 sen/kg menjadi 256,2 sen/kg hanya dalam beberapa hari. Oleh karena itu, penurunan ke area 253 sen/kg pada Senin siang masih dapat dikategorikan sebagai koreksi setelah kenaikan tajam, bukan langsung sebagai tanda bahwa tren penguatan telah berakhir.
Secara teknikal — dan ini hanya perkiraan, bukan kepastian — area 250–252 sen/kg menjadi wilayah penting untuk melihat apakah koreksi dapat tertahan. Jika area tersebut mampu bertahan, harga masih berpeluang mencoba kembali ke 255–258 sen/kg.
Sebaliknya, apabila tekanan jual semakin kuat dan harga menembus sekitar 250 sen/kg, koreksi berpotensi berlanjut menuju kisaran 247–249 sen/kg. Area sekitar 243–245 sen/kg menjadi batas berikutnya yang perlu diperhatikan apabila tekanan jual berlangsung lebih dalam.
Untuk perdagangan hari ini, dengan harga sekitar 253,1 sen/kg pada pukul 12.56 WIB, kisaran 250–255 sen/kg masih menjadi area yang cukup realistis untuk diperhatikan, dengan kemungkinan pengujian 248–250 sen/kg apabila aksi ambil untung semakin besar.
Perkiraan tersebut bukan target pasti dan dapat berubah cepat mengikuti pergerakan pasar global, kurs, harga minyak, kondisi cuaca produsen, serta perkembangan perdagangan di Shanghai dan Singapura.
Pasar belum berbalik arah, tetapi euforia mulai diuji
Secara keseluruhan, koreksi SICOM-TSR20 pada awal pekan ini lebih tepat dibaca sebagai ujian terhadap kenaikan tajam pekan sebelumnya.
Fundamental masih memberikan dukungan: pasokan bahan baku belum sepenuhnya lancar, cuaca masih menjadi risiko, El Niño berkembang kuat, persediaan menunjukkan kecenderungan menurun dan harga minyak masih memberikan dukungan terhadap karet sintetis.
Tetapi pasar juga memiliki alasan untuk berhati-hati. Kenaikan harga yang sangat cepat telah membuat sebagian pelaku mengamankan keuntungan, sementara permintaan industri ban belum menunjukkan peningkatan yang cukup kuat untuk membenarkan kenaikan tanpa jeda.
Dengan demikian, perhatian pasar pada pekan ini tidak hanya tertuju pada apakah harga mampu kembali menembus level tertinggi pekan lalu, tetapi juga apakah koreksi dapat bertahan di atas area 250 sen/kg.
Jika mampu bertahan, koreksi dapat menjadi jeda setelah reli tajam. Sebaliknya, jika tekanan jual semakin dalam dan area tersebut gagal dipertahankan, pasar berpotensi memasuki fase penyesuaian yang lebih panjang sebelum menentukan arah berikutnya.