SICOM-TSR20 Kembali Menguat ke 257,4 Sen, Mampukah Tembus 260?
MEDAN, 2 Oktober 2026 — Harga karet alam kembali menguat pada perdagangan Jumat (2/10), dengan kontrak SICOM-TSR20 November terpantau berada di 257,4 sen AS per kilogram pada pukul 13.05 WIB, naik sekitar 2% dari posisi sebelumnya.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan jual yang muncul pada perdagangan Kamis belum sepenuhnya mengubah arah pasar. Setelah SICOM-TSR20 sempat ditutup di sekitar 255,4 sen/kg pada 1 Oktober, harga kembali bergerak naik dan mendekati level tertinggi 258,7 sen/kg yang dicapai pada 30 September.
Dengan posisi saat ini, perhatian pasar kembali tertuju pada level psikologis 260 sen/kg. Level tersebut hanya berjarak sekitar 3,1 sen atau sekitar 1,2% dari harga siang ini.
Dari Koreksi ke Rebound
Pergerakan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. SICOM-TSR20 bergerak dari 249,5 sen/kg pada 23 September menjadi 254 sen pada 24 September, kemudian 256,2 sen pada 25 September.
Setelah terkoreksi ke 252,4 sen pada 28 September dan 250 sen pada 29 September, harga kemudian melonjak ke 258,7 sen pada 30 September. Pada 1 Oktober harga kembali terkoreksi ke 255,4 sen sebelum rebound ke 256,9 sen pada perdagangan siang ini.
Pola tersebut menunjukkan bahwa profit taking memang masih menjadi risiko, tetapi untuk sementara koreksi belum berkembang menjadi pembalikan tren. Setiap penurunan masih mendapatkan respons beli sehingga harga kembali bergerak mendekati area tertingginya.
Karena itu, pergerakan hari ini lebih tepat dibaca sebagai rebound lanjutan setelah koreksi, bukan sebagai bukti bahwa tekanan profit taking sudah hilang sepenuhnya.
Bukan Hanya Karena Harga Minyak
Kenaikan harga minyak mentah memang masih memberikan dukungan kepada karet alam. Brent pada perdagangan terbaru berada di sekitar US$102 per barel, setelah sebelumnya mengalami kenaikan tajam akibat meningkatnya kembali kekhawatiran terhadap pasokan energi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Hubungannya dengan karet cukup sederhana. Karet alam bersaing dengan karet sintetis yang berbahan dasar minyak. Ketika minyak naik, biaya relatif karet sintetis ikut meningkat sehingga karet alam memperoleh dukungan harga.
Namun, kenaikan SICOM-TSR20 kali ini tidak cukup tepat jika hanya dijelaskan oleh minyak.
Faktor yang lebih langsung adalah persoalan pasokan karet alam. Gangguan cuaca di Thailand telah menghambat aktivitas penyadapan, sementara prakiraan cuaca terbaru masih menunjukkan potensi hujan dan badai di sejumlah wilayah Thailand hingga beberapa hari ke depan.
Badan Meteorologi Thailand memperkirakan hujan tetap terjadi di wilayah selatan dan terdapat potensi hujan lebat pada 5–7 Oktober. Kondisi seperti ini dapat mengurangi jumlah hari penyadapan dan menghambat pengumpulan bahan baku di tingkat perkebunan.
Dengan kata lain, pasar saat ini menghadapi kombinasi pasokan fisik yang tidak lancar, harga bahan baku yang relatif tinggi dan dukungan dari pasar energi.
Indonesia dan Malaysia Juga Menjadi Bagian dari Cerita Pasokan
Faktor pasokan tidak hanya berasal dari Thailand.
Laporan terbaru ANRPC menunjukkan bahwa proyeksi produksi karet alam global 2026 telah direvisi turun cukup signifikan. Produksi dunia kini diperkirakan hanya sekitar 15,039 juta ton, atau naik sekitar 0,6% dibandingkan 2025. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Indonesia diproyeksikan menghasilkan sekitar 1,877 juta ton, turun 8% dari tahun sebelumnya. Malaysia bahkan diperkirakan turun sekitar 10,9%, sementara produksi Vietnam diproyeksikan turun 4,2%.
Angka tersebut penting karena menunjukkan bahwa kenaikan harga saat ini bukan semata-mata reaksi pasar terhadap banjir Thailand. Ada persoalan yang lebih luas, yaitu pertumbuhan pasokan global yang semakin terbatas.
ANRPC juga mencatat produksi global pada Agustus diperkirakan turun sekitar 4,5% secara tahunan menjadi 1,396 juta ton.
Di sisi lain, konsumsi global memang tidak tumbuh agresif. ANRPC memperkirakan konsumsi karet alam 2026 hanya meningkat sekitar 0,4% menjadi 15,356 juta ton. Namun pertumbuhan yang relatif kecil tersebut tetap berlangsung ketika pasokan menghadapi sejumlah gangguan.
Persediaan Qingdao Masih Menjadi Penopang
Salah satu indikator yang turut diperhatikan pasar adalah persediaan karet di Qingdao, China.
Data terbaru menunjukkan total persediaan karet alam di Qingdao sekitar 575.200 ton per 27 September, turun 1,73% dibandingkan pekan sebelumnya.
Penurunan persediaan berarti stok yang tersedia di salah satu pusat perdagangan dan penyimpanan utama China masih mengalami penyusutan. Kondisi tersebut memberikan dukungan tambahan terhadap harga karena pasar melihat ketersediaan fisik belum sepenuhnya longgar.
Namun, sisi permintaan juga perlu diperhatikan.
China sedang memasuki periode libur panjang National Day atau Golden Week pada 1–7 Oktober. Aktivitas industri dan pembelian bahan baku dapat mengalami perubahan selama periode tersebut. Karena itu, kenaikan harga yang terlalu cepat tetap berpotensi menghadapi jeda atau aksi ambil untung apabila pembelian fisik tidak segera mengimbangi kenaikan kontrak berjangka.
Permintaan Belum Menjadi Mesin Utama Kenaikan
Inilah salah satu alasan mengapa kenaikan sekarang perlu dibaca secara hati-hati.
Fundamental permintaan karet sebenarnya masih cukup sehat, terutama dari industri ban dan otomotif. ANRPC menyebut permintaan yang berkaitan dengan kendaraan listrik turut memberikan dukungan, terutama di China dan India.
Namun, pertumbuhan permintaan global tidak cukup besar untuk disebut sebagai lonjakan permintaan yang luar biasa.
Karena itu, struktur kenaikan harga saat ini lebih banyak didorong oleh kekhawatiran terhadap pasokan dan meningkatnya risiko produksi, sementara permintaan berfungsi sebagai penyangga agar koreksi tidak terlalu dalam.
Hal ini juga menjelaskan mengapa harga dapat naik cukup cepat meskipun pasar China sedang memasuki libur panjang.
Apakah Profit Taking Akan Bangkit Lagi?
Risiko tersebut masih ada.
Harga SICOM-TSR20 telah naik sangat jauh dibandingkan awal tahun. Dari 181,7 sen/kg pada 2 Januari menjadi 256,9 sen/kg pada siang 2 Oktober, berarti kenaikannya sudah sekitar 41% sepanjang tahun.
Kenaikan yang sangat besar membuat sebagian pelaku pasar memiliki insentif untuk mengamankan keuntungan, terutama ketika harga mendekati angka psikologis 260 sen/kg.
Karena itu, area 258–260 sen/kg menjadi zona yang sangat penting. Apabila harga gagal menembus area tersebut dan mulai kembali turun ke bawah 255 sen, tekanan profit taking dapat kembali meningkat.
Sebaliknya, apabila harga mampu melewati 260 sen/kg dan bertahan di atasnya, secara teknikal pasar akan memberikan sinyal bahwa tekanan jual di area tersebut mulai terserap.
Kapan SICOM-TSR20 Berpotensi Menembus 260?
Dengan harga siang ini di 256,9 sen/kg, secara matematis jarak menuju 260 sudah relatif dekat.
Secara teknikal sederhana, 258,7 sen/kg merupakan resistance terdekat karena menjadi titik tertinggi 30 September. Apabila level tersebut ditembus dengan kuat, peluang pengujian 260 sen/kg akan semakin besar.
Skenario yang perlu diperhatikan hari ini:
Skenario pertama — bullish:
Harga mampu melewati 258,7 dan kemudian bertahan di atas 259–260 sen/kg. Jika terjadi, area 260 berpotensi berubah dari resistance menjadi area uji berikutnya. Pergerakan lanjutan dapat mengarah ke 262–265 sen/kg, tetapi membutuhkan konfirmasi bahwa volume dan pembelian benar-benar mendukung kenaikan.
Skenario kedua — konsolidasi:
Harga tertahan di sekitar 257–259 sen/kg dan bergerak sideways. Ini justru dapat menjadi fase yang sehat setelah kenaikan tajam, karena pasar membutuhkan waktu untuk menyerap aksi ambil untung sebelum mencoba kembali naik.
Skenario ketiga — profit taking:
Harga gagal melewati 258–260 sen/kg kemudian turun di bawah 255 sen/kg. Jika tekanan jual berlanjut, area 252–250 sen/kg menjadi zona yang perlu diperhatikan.
Dengan kondisi saat ini, 260 sen/kg berpeluang diuji dalam waktu dekat, bahkan dapat terjadi pada sesi perdagangan hari ini apabila momentum tetap kuat. Namun, menembus 260 dan bertahan di atasnya merupakan persoalan berbeda. Pasar perlu menunjukkan bahwa kenaikan bukan hanya akibat pembelian spekulatif jangka pendek.
Perkiraan Pergerakan Hari Ini
Berdasarkan kombinasi pergerakan harga, posisi terhadap level tertinggi sebelumnya, serta kondisi fundamental terkini, area perdagangan SICOM-TSR20 hari ini secara teknikal dapat dipantau di sekitar:
Support: 255 – 254 sen/kg
Support berikutnya: 252 – 250 sen/kg
Resistance: 258,7 – 260 sen/kg
Jika breakout: 262 – 265 sen/kg
Selama harga masih bertahan di atas 255 sen/kg, struktur jangka pendek masih relatif kuat. Namun jika 255 ditembus ke bawah, momentum rebound perlu diwaspadai karena pasar dapat kembali masuk ke fase profit taking.
Untuk sementara, 260 sen/kg lebih tepat dipandang sebagai level uji penting daripada target yang sudah pasti tercapai.
Fundamental Masih Mendukung, Tetapi Volatilitas Tinggi
Secara keseluruhan, pasar karet alam saat ini berada dalam kondisi yang cukup unik. Pasokan menghadapi gangguan cuaca dan pertumbuhan produksi global yang terbatas, sementara persediaan Qingdao terus mengalami penurunan.
Harga minyak yang tinggi memberikan tambahan dukungan melalui kenaikan biaya karet sintetis. Di sisi lain, permintaan belum menunjukkan lonjakan besar dan libur panjang China dapat membuat aktivitas pembelian jangka pendek tidak terlalu agresif.
Artinya, fondasi kenaikan harga masih ada, tetapi ruang untuk koreksi juga tetap terbuka.
Jika gangguan penyadapan di Thailand berlanjut, produksi dari negara-negara utama tetap terbatas dan persediaan China terus turun, maka peluang harga mempertahankan level tinggi menjadi semakin besar. Sebaliknya, apabila cuaca membaik, aktivitas penyadapan kembali normal dan pembelian industri melemah setelah periode libur, pasar dapat kembali mengalami profit taking.
Dengan harga siang ini 256,9 sen/kg, perhatian pasar kini bukan lagi sekadar apakah SICOM-TSR20 mampu bertahan di 250 sen, melainkan apakah area 260 sen/kg akan berhasil ditembus dan dipertahankan.
Catatan: analisis teknikal di atas merupakan pembacaan berdasarkan data harga yang tersedia hingga pukul 12.03 WIB dan bukan kepastian arah harga. Pergerakan intraday dapat berubah cepat karena faktor cuaca, minyak mentah, nilai tukar, pasar China, posisi spekulatif dan perkembangan geopolitik.