Harga Karet Global Menguat, Pasar Masih Sepi Usai Libur Imlek
Medan, 25 Februari 2026 – Harga karet alam dunia menunjukkan penguatan tipis pada pekan ketiga Februari 2026, meski aktivitas perdagangan berlangsung relatif sepi akibat libur Tahun Baru Imlek di China, salah satu konsumen terbesar karet global.
Di Bursa Osaka Exchange (OSE) Jepang, kontrak karet pengiriman Juli 2026 tercatat naik sekitar 2,7 persen secara mingguan. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi perdagangan yang tipis, didukung oleh pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar AS yang meningkatkan daya tarik pembelian bagi investor luar negeri, serta kenaikan harga minyak mentah yang memperkuat sentimen pasar.
Penguatan juga terlihat di Singapore Exchange (SICOM), di mana kontrak aktif Mei 2026 naik sekitar 0,5 persen dibanding pekan sebelumnya. Namun, perdagangan di Singapura hanya berlangsung dua hari selama periode libur, sehingga pergerakan harga relatif terbatas.
China Kembali Buka, Harga Langsung Menguat
Seiring berakhirnya libur Imlek, perdagangan di China kembali dibuka pada 24 Februari dan langsung mendorong kenaikan harga. Kontrak karet pengiriman Agustus di Osaka tercatat naik 3,25 persen menjadi 368,8 yen per kilogram, sementara kontrak karet di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melonjak 3,9 persen menjadi 17.030 yuan per ton.
Para pelaku pasar memperkirakan volatilitas harga akan meningkat seiring kembalinya aktivitas perdagangan di China. Selain faktor permintaan, harga juga ditopang oleh kenaikan biaya bahan baku dan harga energi global yang mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Secara musiman, produksi karet alam juga memasuki periode rendah antara Februari hingga Mei sebelum mencapai puncak panen pada September. Kondisi ini turut memberikan dukungan tambahan terhadap harga di pasar fisik.
Ekspor Thailand Turun, Pasokan Global Tertekan
Dari sisi pasokan, Thailand sebagai produsen karet alam terbesar dunia melaporkan penurunan ekspor pada awal tahun ini. Pada Januari 2026, ekspor karet alam Thailand tercatat sebesar 214 ribu ton, turun 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada ekspor karet campuran yang tercatat sebesar 137 ribu ton, atau turun 10 persen secara tahunan. Secara total, ekspor gabungan karet alam dan karet campuran Thailand mencapai 351 ribu ton, juga turun 10 persen.
China tetap menjadi tujuan utama ekspor, dengan total pengiriman mencapai 214 ribu ton, meski angka ini juga turun 10 persen dibandingkan tahun lalu.
Prospek Harga Masih Didukung Faktor Fundamental
Pelaku pasar menilai kombinasi pelemahan mata uang yen, kenaikan harga minyak, serta pasokan yang cenderung terbatas menjadi faktor utama yang menopang harga karet saat ini. Kembalinya aktivitas perdagangan di China juga diperkirakan akan meningkatkan volume transaksi dalam beberapa pekan ke depan.
Namun demikian, pelaku industri masih mencermati ketidakpastian global, termasuk dinamika perdagangan internasional dan kondisi ekonomi negara-negara konsumen utama, yang dapat mempengaruhi arah harga karet ke depan.
Bagi negara produsen seperti Indonesia, stabilnya harga karet global menjadi faktor penting dalam menjaga nilai ekspor dan pendapatan sektor perkebunan, khususnya di wilayah sentra produksi seperti Sumatera Utara.