Pasar Karet Global Berfluktuasi di Tengah Ketegangan Geopolitik, Pantai Gading Perkuat Posisi sebagai Produsen No. 3 Dunia
Medan, 6 Maret 2026 – Pergerakan harga karet alam dunia dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kondisi pasar yang volatile atau berfluktuasi, dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk pelemahan kontrak karet di bursa regional serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Pantauan perdagangan pagi ini di bursa SGX Singapura menunjukkan harga TSR20 untuk kontrak April 2026 berada di level 194,9 sen AS/kg pada pukul 07.55 WIB, naik sebesar 0,7 sen AS dibandingkan posisi sebelumnya.
Tekanan pasar terutama berasal dari pelemahan kontrak karet di sejumlah bursa regional serta meningkatnya ketidakpastian global terkait ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati sehingga pergerakan harga karet menjadi tidak stabil.
Meski demikian, secara fundamental pasar karet alam masih dinilai cukup kuat. Organisasi produsen karet dunia Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC) memperkirakan permintaan karet alam global pada 2026 mencapai sekitar 15,6 juta ton, sementara produksi diproyeksikan sekitar 15,2 juta ton.
Perkiraan tersebut menunjukkan potensi defisit pasokan sekitar 400 ribu ton, yang berpotensi menjaga harga karet tetap relatif kuat dalam jangka menengah. Selain itu, permintaan dari industri ban global masih stabil, sementara pasokan karet alam dunia tetap relatif ketat.
Di tengah dinamika pasar tersebut, Pantai Gading (Côte d’Ivoire) juga menjadi salah satu faktor yang mulai mempengaruhi peta produksi karet alam global. Dalam beberapa tahun terakhir negara Afrika Barat tersebut telah menempati posisi sebagai produsen karet alam terbesar ketiga di dunia, berada di bawah Thailand dan Indonesia, sekaligus melampaui Vietnam.
Kenaikan posisi ini didorong oleh pertumbuhan produksi yang sangat pesat dalam satu dekade terakhir. Data menunjukkan ekspor karet alam Pantai Gading meningkat hampir empat kali lipat dalam periode 2015–2024, dari sekitar 410 ribu ton menjadi sekitar 1,7 juta ton.
Sebagian besar ekspor karet dari negara tersebut dikirim ke China, India, Malaysia, dan Amerika Serikat, yang merupakan pusat industri pengolahan dan manufaktur ban dunia.
Perkembangan ini menjadikan Pantai Gading sebagai pemasok baru yang semakin penting di pasar karet internasional, sekaligus memperluas basis produksi global yang selama ini didominasi negara-negara Asia.
Di kawasan Afrika sendiri, permintaan ban diperkirakan akan terus meningkat. Nilai pasar ban Afrika diperkirakan mencapai sekitar 7,10 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 8,94 miliar dolar AS pada 2030, didorong oleh pertumbuhan jumlah kendaraan serta meningkatnya kelas menengah di berbagai negara berkembang.
Meski demikian, pengembangan industri ban di Afrika masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kebutuhan bahan baku tambahan seperti karet sintetis berbasis minyak bumi, carbon black, serat tekstil, serta kawat baja, selain juga kendala pembiayaan dan infrastruktur industri.
Dengan berbagai dinamika tersebut, pasar karet alam global dalam jangka pendek diperkirakan masih bergerak fluktuatif, namun dukungan dari permintaan industri ban dan potensi defisit pasokan tetap menjadi faktor yang dapat menjaga stabilitas harga di pasar internasional.